banner 728x250
Daerah  

“Kartini Tidak Pernah Padam”  Gus Yasin: Dari Air Mata dan Doa Perempuan, Bangsa Ini Berdiri Tegak

SIDOARJO//corongberita.i-news.site        Ada nama yang tak pernah lekang oleh waktu, tak pernah pudar oleh zaman. Nama itu adalah Raden Ajeng Kartini. Ia bukan sekadar tokoh dalam buku sejarah, melainkan denyut yang masih terasa dalam setiap langkah perempuan Indonesia hari ini. Setiap peringatan Hari Kartini, bangsa ini seperti diajak kembali menyelami luka, harapan, dan perjuangan yang dulu ditulis dengan air mata, namun kini tumbuh menjadi cahaya yang tak terpadamkan.

Di tengah getaran makna itu, Gus Yasin, Ketua Umum FOKUS Kabupaten Sidoarjo, menyampaikan ucapan selamat Hari Kartini dengan suara yang bukan sekadar formalitas, tetapi sarat emosi dan kesadaran mendalam akan arti perempuan bagi masa depan bangsa.

“Selamat Hari Kartini untuk seluruh perempuan Indonesia… hari ini bukan hanya tentang mengenang, tetapi tentang merasakan, bahwa perjuangan itu belum selesai,” ucapnya lirih namun penuh ketegasan.

 

Dalam pernyataannya, Gus Yasin menggambarkan perempuan sebagai kekuatan yang sering kali tersembunyi, namun justru menjadi penyangga utama kehidupan. Ia menyinggung tentang peran perempuan yang tak selalu terlihat, namun selalu terasa, dalam doa-doa yang dipanjatkan diam-diam, dalam air mata yang disembunyikan, dan dalam pengorbanan yang tak pernah meminta balasan.

“Perempuan itu kuat… bahkan ketika dunia tidak melihatnya. Mereka menangis dalam diam, tetapi tetap berdiri untuk orang-orang yang mereka cintai. Dari rahim perempuan lahir kehidupan, dari kasihnya tumbuh peradaban,” ungkapnya dengan nada yang menggugah.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa Kartini hari ini bukan lagi hanya satu sosok, tetapi telah menjelma menjadi jutaan perempuan Indonesia, para ibu, para pekerja, para pejuang keluarga, yang setiap hari berjuang tanpa panggung, tanpa sorotan, namun dengan ketulusan yang tak tergantikan.

“Kartini hari ini ada di rumah-rumah sederhana, di pasar-pasar, di kantor-kantor, di sekolah-sekolah. Mereka adalah perempuan-perempuan hebat yang mungkin tak dikenal, tetapi jasanya menentukan arah masa depan bangsa ini,” tegasnya.

Namun di balik kekuatan itu, Gus Yasin juga mengingatkan bahwa masih banyak perempuan yang berjuang dalam keterbatasan, yang belum mendapatkan ruang dan kesempatan yang layak. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak hanya mengagumi perempuan, tetapi juga memperjuangkan hak dan martabat mereka.

“Jangan biarkan perempuan berjalan sendiri dalam perjuangannya. Mereka tidak butuh dikasihani, tetapi didukung, dihargai, dan diberi ruang untuk tumbuh,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Gus Yasin menyampaikan pesan yang begitu dalam, seakan menjadi penutup yang menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya.

“Jika hari ini kita bisa berdiri dengan kuat, itu karena ada perempuan yang tidak pernah berhenti berdoa untuk kita. Maka, muliakanlah perempuan… karena dari sanalah masa depan bangsa ini ditentukan.”

Hari Kartini kali ini bukan lagi sekadar peringatan. Ia menjadi cermin, tentang bagaimana kita memandang perempuan, memperlakukan mereka, dan menghargai setiap pengorbanan yang sering kali tak terucapkan.

Dan di Sidoarjo, dari suara Gus Yasin yang menggema penuh makna, satu pesan menjadi jelas, bahwa selama masih ada perempuan yang berjuang dengan cinta dan ketulusan, maka harapan bagi bangsa ini tidak akan pernah padam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *