Corong berita.i-news.site 22-02-2026
Di tengah kehidupan yang kian menilai segala sesuatu dengan ukuran materi dan popularitas, Islam kembali mengingatkan umatnya pada satu prinsip mendasar: amal bukan tentang apa yang terlihat, melainkan kepada siapa ia dipersembahkan.
Dalam Kitab Tauhid karya Muhammad bin Abdul Wahhab, terdapat satu peringatan yang relevansinya semakin terasa hari ini, yakni bab tentang bahaya menghendaki dunia dengan amal akhirat.
Sebuah peringatan tauhid yang halus, namun menghunjam tepat ke jantung niat manusia.
Allah ﷻ berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ “Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan amal-amal mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Tetapi di akhirat, mereka tidak memperoleh apa-apa selain neraka.” (QS. Hud: 15–16)
Ayat ini menegaskan satu kaidah tauhid: amal yang diniatkan untuk dunia, balasannya pun berhenti di dunia. Tidak ada pahala akhirat bagi amal yang sejak awal tidak diarahkan kepada Allah.
Fenomena ini bukanlah cerita masa lalu. Hari ini, amal kebaikan sering kali tampil dalam bingkai kepentingan—popularitas, pengaruh, jabatan, atau keuntungan ekonomi. Dakwah, sedekah, bahkan ibadah sosial, tak jarang tergelincir menjadi alat meraih dunia, sementara keikhlasan perlahan memudar.
Padahal Islam tidak mengharamkan datangnya manfaat dunia dari amal. Yang diperingatkan adalah ketika dunia menjadi tujuan, bukan sekadar konsekuensi. Ketika niat tidak lagi menghadap Allah, maka amal—sebesar apa pun—kehilangan ruhnya.
Allah ﷻ kembali mengingatkan:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Inilah inti dakwah tauhid: memurnikan niat, membersihkan amal dari kepentingan selain Allah. Amal yang sedikit namun ikhlas lebih bernilai daripada amal besar yang tercemar tujuan dunia.
Narasi ini bukan untuk menghakimi, melainkan mengajak bermuhasabah. Sebab syirik dalam niat sering kali tersembunyi, datang tanpa disadari, dan merusak amal dari dalam.
Di tengah sorotan, tepuk tangan, dan penghargaan manusia, Islam mengajak umatnya kembali bertanya: Untuk siapa semua ini dilakukan?
Karena pada akhirnya, amal yang benar-benar hidup hanyalah amal yang lahir dari hati yang ikhlas—dikerjakan karena Allah, dan kembali kepada Allah semata.
*Rf*








