banner 728x250

Antara Kepedulian & Panggung opini

Oplus_16908288

Corong berita.i.news.site.07_02_2026

Opini

 

Tak semua yang mengenakan rompi kepedulian sedang berjuang. Sebagian hanya sedang tampil. Aktivisme diperlakukan seperti properti: dipakai saat kamera menyala, dilepas ketika kerja nyata dimulai. Rapi di foto, ringan di tanggung jawab.

 

Ada yang lantang menyebut penderitaan, tetapi alergi pada konsistensi. Datang ketika isu memuncak, pergi saat masalah menuntut ketekunan. Perjuangan disempitkan menjadi momentum, bukan komitmen. Yang dicari barisan terdepan, bukan beban yang harus dipikul.

 

“Rakyat” kerap diucapkan dengan suara tinggi, namun jarang ditemani dalam sunyi. Ia dijadikan tameng moral dan tiket legitimasi. Begitu sorotan padam, keberpihakan ikut menghilang—yang tersisa hanya jejak unggahan dan klaim kepedulian.

 

Fenomena ini bukan sekadar memalukan, tetapi berbahaya. Ia menciptakan kebisingan palsu, menukar kerja dengan simbol, empati dengan eksposur. Aktivisme dijadikan panggung, sementara mereka yang benar-benar bekerja justru tersingkir dari cahaya.

 

Perjuangan sejati tak membutuhkan kostum berlebih atau narasi heroik. Ia menuntut kehadiran, ketekunan, dan kesediaan kotor. Lumpur di sepatu tak bisa direkayasa. Pada akhirnya, waktu dan keringat akan menguji segalanya: mana yang benar-benar berjuang, mana yang hanya pandai memainkan peran.

 

 

Sejarah tak mencatat siapa yang paling sering tampil, melainkan siapa yang paling lama bertahan. Aktivisme yang hidup dari panggung akan selesai bersama tepuk tangan. Yang bekerja dalam diam, justru terus berjalan—tanpa perlu pengakuan.

 

*Rf*

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *