banner 728x250

Jeritan di Tengah Sunyi Penatarsewu: Motor Raib, Tanggung Jawab Lenyap, Korban Terjebak dalam Ketidakpastian

 

SIDOARJO//corongberita.i-news.site.    Malam yang seharusnya menjadi pelarian dari penat, berubah menjadi mimpi buruk yang membekas. Di tambak pemancingan Desa Penatarsewu, Kecamatan Tanggulangin, sebuah peristiwa mengoyak rasa aman, sepeda motor milik pengunjung hilang secara misterius di tengah penjagaan yang seharusnya memberi perlindungan.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 02.00 WIB, Minggu dini hari, 12 April 2026. Dalam gelap yang pekat, saat sebagian orang larut dalam kesibukan memancing, korban justru dihadapkan pada kenyataan yang tak pernah ia bayangkan. Motor Honda Vario merah tahun 2013 bernopol P 2858 LC yang ia parkir dengan penuh keyakinan… lenyap. Tanpa suara. Tanpa jejak. Tanpa saksi yang mampu memberi kepastian.

Panik. Bingung. Tak percaya. Semua bercampur menjadi satu.

Korban berlari, menoleh ke setiap sudut, berharap itu hanya kesalahan pandang. Namun nihil. Yang tersisa hanya ruang kosong di tempat motornya terakhir berdiri, sebuah kekosongan yang seolah mencerminkan hilangnya tanggung jawab di lokasi tersebut.

Lebih mengejutkan, di area yang disebut “dijaga”, ternyata terdapat enam orang petugas parkir yang bertugas malam itu. Bahkan, menurut keterangan, masing-masing menerima pembagian uang parkir hingga Rp250 ribu. Sebuah angka yang seharusnya berbanding lurus dengan rasa aman yang diberikan.

“Yang jaga ada enam orang,” ucap salah satu penjaga, datar.

Namun kalimat itu tak lebih dari sekadar pengakuan, tanpa solusi, tanpa arah, tanpa tanggung jawab. Ketika korban menuntut kejelasan, jawaban yang ia terima justru saling bertolak belakang. Para penjaga parkir saling menghindar, seolah tak ada satu pun yang benar-benar bertugas. Semua merasa bukan wilayahnya. Semua merasa bukan kewajibannya.

Sebuah ironi yang menyakitkan, di tempat yang ramai, korban justru merasa sendirian.

Harapan terakhir pun tertuju pada panitia yang dikenal dengan sebutan “Dulitan”. Namun harapan itu runtuh seketika. Alih-alih hadir sebagai penanggung jawab, panitia justru mengangkat tangan, berlindung di balik pernyataan yang terasa dingin dan tanpa empati.

“Sebelum parkir sudah kami sampaikan kalau ada kehilangan, panitia tidak bertanggung jawab.”

Kalimat itu menghantam keras. Bagi korban, ini bukan sekadar kehilangan kendaraan. Ini adalah pengkhianatan terhadap rasa percaya. Bagaimana mungkin ada pungutan parkir, ada petugas berjaga, namun tak ada satu pun yang mau bertanggung jawab saat musibah terjadi?

Air muka korban menggambarkan luka yang lebih dalam dari sekadar kerugian materi. Ada rasa dipermainkan, ditinggalkan, bahkan diabaikan di tengah keramaian.

Hingga kini, kasus tersebut masih menggantung tanpa kepastian. Tak ada titik terang. Tak ada pihak yang benar-benar berdiri untuk menyelesaikan. Yang ada hanyalah kebisuan, saling lempar, dan alasan demi alasan.

Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi siapa pun yang menganggap tempat umum sebagai ruang aman. Di Penatarsewu, malam itu bukan hanya motor yang hilang, tetapi juga rasa aman, keadilan, dan kepercayaan.

Dan di balik sunyi yang menyelimuti tambak itu, tersimpan satu pertanyaan yang terus menggema:

jika semua merasa tidak bertanggung jawab, lalu siapa yang sebenarnya harus menjawab kehilangan ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *