Corong berita.i.news.site
Lampung Timur – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di MIM Braja Asri yang seharusnya menjadi “bahan bakar” semangat belajar siswa, kini justru memantik kekecewaan sejumlah wali murid. Mereka menilai kualitas menu yang belakangan disajikan jauh dari harapan awal program pemerintah.
Beberapa orang tua menyebut, makanan yang diterima anak-anak mereka tampak seperti sekadar menggugurkan kewajiban, bukan wujud keseriusan memenuhi standar gizi.
Kami tidak menuntut mewah. Tapi kalau namanya program bergizi, tentu harus terlihat dan terasa gizinya. Jangan sampai kemasannya program nasional, isinya ala kadarnya,” ujar salah satu wali murid.
Kekecewaan ini tidak hanya soal rasa, tetapi juga soal tanggung jawab. Para orang tua menilai, jika anggaran sudah ditetapkan, maka kualitas semestinya ikut terjamin. Mereka khawatir, jika pengawasan longgar, tujuan mulia program bisa berubah menjadi rutinitas administratif tanpa makna.
Pihak sekolah sendiri menegaskan bahwa mereka hanya berperan sebagai penyalur.
Kami hanya menyalurkan. Untuk pengadaan dan teknis penyediaan bukan tanggung jawab sekolah,” kata perwakilan sekolah.
Pernyataan tersebut secara tidak langsung mengarahkan sorotan kepada pihak penyedia makanan, yakni SPPG. Sebab, di balik setiap kotak makan yang dibagikan, ada tanggung jawab moral untuk memastikan isinya benar-benar layak dikonsumsi anak-anak.
Kepala SPPG, Edi Aulia Aziz, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp menyampaikan permohonan maaf.
Kami mohon maaf atas menu yang disajikan. Kami akan meninjau kembali kualitas dan variasi makanan agar sesuai dengan standar gizi yang seharusnya,” ujarnya.
Namun bagi sebagian wali murid, permintaan maaf saja belum cukup. Mereka berharap evaluasi tidak berhenti pada kata-kata, melainkan diwujudkan dalam perbaikan nyata dan transparansi pengelolaan.
Program MBG dirancang sebagai investasi kesehatan generasi muda. Karena itu, para orang tua menegaskan bahwa kualitas tidak boleh menjadi variabel yang dinegosiasikan. Jika program ini adalah wajah komitmen negara terhadap anak-anak, maka wajah itu harus bersih, bukan buram oleh kelalaian.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan rinci dari pihak penyedia terkait standar menu, mekanisme pengawasan kualitas, maupun evaluasi internal yang telah dilakukan.
Sumber: ATS
“Rf*








